Gallery

One Direction

Technology

One Direction

Monday, 9 June 2014

SEJARAH TERLENGKAP SUKU PASMA/PASEMAH/BESEMAH

Besemah suatu terminology lebih dikenal dekat dengan satu bentuk kebudayaan dan suku yang berada disekitar gunung Dempo dan pegunungan Gumay. Wilayah ini dikenal dengan Rena Besemah. Sedangkan untuk terminology politik dan pemerintahan, dipergunakan nomenklatur Pasemah. Pada masa kolonial oleh Inggris dan Belanda menyebutnya Pasumah, bahkan sampai sekarang Pemerintah Republik Indonesia masih menyebutnya Pasemah.
Sekilas Sejarah Besemah
Ilustrasi menarik mengenai tempat orang-orang Pasemah pernah dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang ditulisnya tahun 1865 sebagai berikut:
Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu. kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas; dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah. Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Dari kutipan itu tampak bahwa saat itu wilayah Pasemah masih belum masuk dalam jajahan Hindia Belanda. Operasi-operasi militer Belanda untuk menaklukkan Pasemah sendiri berlangsung lama, dari 1821 sampai 1867. Johan Hanafiah budayawan Sumatra Selatan, dalam sekapur sirih buku Sumatra Selatan Melawan Penjajah Abad 19 tersebut menyebutkan bahwa perlawanan orang Pasemah dan sekitarnya ini adalah perlawanan terpanjang dalam sejarah perjuangan di Sumatera Selatan abad 19, berlangsung hampir 50 tahunlamanya.Johan Hanafiah juga menyatakan bahwa pada awalnya orang-orang luas, khususnya orang Eropa, tidak mengenali siapa sebenarnya orang-orang Pasemah. Orang Inggris, seperti Thomas Stamford Rafless yang pahlawan perang Inggris melawan Belanda di Jawa (1811) dan terakhir mendapat kedudukan di Bengkulu dengan pangkat besar (1817-1824) menyebutnya dengan Passumah. Namun kesan yang dimunculkan adalah bahwa orang-orang Passumah ini adalah orang-orang yang liar. Dalam The British History in West Sumatra yang ditulis oleh John Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum (lawless) dan gagah berani dari tanah Passumah pernah menyerang distrik Manna tahun 1797. Disebutkan pula bahwa pada tahun 1818, Inggris mengalami dua malapetaka di daerah-daerah Selatan yakni perang dengan orang-orang Passumah dan kematian-kematian karena penyakit cacar.Pemakaian nama Passumah sebagaimana digunakan oleh orang Inggris tersebut rupanya sudah pernah pula muncul pada laporan orang Portugis jauh sebelumnya. Disebutkan dalam satu situs internet bahwa Portugis pernah mendarat di Pacem atau Passumah (Puuek, Pulau Sumatra) pada bulan Mei 1524. Namun, dari korespondensi pribadi dengan Marco Ramerini dan Barbara Watson Andaya, diperoleh konfirmasi bahwa yang dimaksudkan dalam laporan Portugis itu adalah Aceh, bukan Pasemah seperti yang dikenal ada di Sumatra Selatan sekarang. Hal ini juga terindikasi dari lokasi Pacem itu sendiri yang dituliskan berada pada 05_09’ Lintang Utara – 97_14’ Bujur Timur). Gunung Dempo sendiri yang disebut -sebut oleh Gramberg di atas berada pada posisi 04_02’ Lintang Selatan – 103_008’ Bujur Timur.Nama Pasemah yang kini dikenal sebetulnya adalah lebih karena kesalahan pengucapan orang Belanda, demikian menurut Mohammad Saman seorang budayawan dan sesepuh di sana. Adapun pengucapan yang benar adalah Besemah sebagaimana masih digunakan oleh penduduk yang bermukim di sana. Namun yang kini lebih dikenal adalah nama Pasemah. Konon, munculnya nama Besemah adalah karena keterkejutan puyang Atong Bungsu manakala melihat banyak ikan “Semah” di sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Yang terucap oleh puyang tersebut kemudian adalah “Be-semah” yang berarti ada banyak ikan semah di sungai tersebut. Hal ini juga tertulis dalam sebuah manuskrip kuno beraksara Latin berjudul Sejarah Pasemah yang tersimpan
Jeme Besemah adalah orang-orang pemberani, Diakui oleh penulis kolonial. Berwatak setia kawan,Dan loyal terhadap komitmen yang membuat saudara Ataupun teman seperjuangan Sultan Palembang, Meneruskan perjuang setelah Sultan Mahmud Badaruddin II Dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1821. Orang-orang Sindang Merdika di besemah menolak tindakan Belanda tersebut. Mereka meneruskan perjuangan di besemah pada tahun 1821 Sampai 1866. Bahkan pada saat-saat pertempuran melawan Belanda Di Palembang 1821 Sampai sekarang masih belum jelas Dari mana sebenarnya asal usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarangBerlaku juga bagi suku besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh berabad-abad sebelum hadirnya mitos AtungBungsu, ditanah Besemah, dilereng Gunung Dempo dan daerahSekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisiMegalitik dan bukti-bukti budaya megalitik ditanah besemah sampaiSekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah Sekarang ini adalah keturunan dari Pendukung budaya megalitik tersebut ?Pengenalan orang-orang Eropa, terutama Belanda dan Inggris Terhadap orang Besemah pada awalnya sangat apriori. Orang Belanda dengan picik menyebutkan :## dat de Pasoemhers zonen gebragt ( orang pasemah tak akan diajak bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan militer ) Demikian juga Sir Tomas Raffles, seorang Gubernur Jendral Di Bengkulu, pertama kali dia menganggap orang Besemah sebagai The pasumahs were a savage, ungovernable race, and that no termscould ever be made with them (Orang Pasemah adalah buas, ras yang tidak berpemerintahan dan tidak ada istilah yang dapat sesuai untukmereka.) Setelah menempuh perjalanan yang berat dan melelahkan mendakiGunung dan bukit serta menembus belantara, bertemula Raffles Dengan orang Besemah. Perjalanannya ini adalah perjalanan khusus untuk mententramkan orang besemah.Who I Want to Meet:Tegakkah Ganti Nga Tungguan, Jangan Manakah Batu Ke Luagh!!! MAKIN tenggelamkah "Sindang Merdike" saat ini? Menurut budayawan besemah "Mohammad Saman"..Begitu kekuatan Belanda merambah ke Besemah,Mulailah terjadi pergeseran nilai-nilai adat, budaya, danSistem pemerintahan di tanah besemahDampak berikut juga menyentuh berbagai peran dan fungsiLembaga-lembaga lama yang ada di masyarakat ke lembaga Baru yang sesuai dengan keinginan penguasa.Lembaga-lembaga lama misalnya hukum adat dan tradisi lain,Semakin tidak berfungsi. Bahkan, puncaknya memasuki Abad XIX, berbagai lembaga tradisional di tanah besemahTerasa mulai keropos dan pada akhirnya hilang digerogoti Kolonial Belanda
Suku Pasemah atau Besemah
adalah suatu masyarakat adat yang bermukim di daerah perbatasan provinsi Sumatra Selatan dengan provinsi Bengkulu. Wilayah pemukiman suku Pasemah meliputi daerah sekitar kota Pagar Alam, kecamatan Jarai, kecamatan Tanjung Sakti dan daerah sekitar kota Agung kabupaten Lahat. Wilayah pemukiman suku Pasemah ini berada dekat sekitar kaki Gunung Dempo.

Istilah Pasemah, terdapat dalam prasasti yang dibuat oleh balatentara raja Yayanasa dari Kedatuan Sriwijaya setelah penaklukan Lampung tahun 680 Masehi yaitu “Prasasti Palas Pasemah” ada hubungannya dengan tanah Pasemah. Dengan adanya prasasti ini, menunjukkan bahwa suku Pasemah, telah ada sejak sebelum abad 6 Masehi.

Masyarakat Pasemah, menyebut diri mereka sebagai orang Besemah. Saat ini, justru sebutan Pasemah yang populer di Indonesia ini, tidak banyak orang yang tahu dengan sebutan yang benar, yaitu Besemah.
Keberadaan suku Pasemah sendiri diperkirakan telah ada di wilayah Sumatra Selatan ini sejak ribuan tahun sebelum Masehi, bersama-sama suku Komering dan suku Lampung. Hanya saja sejak awal kedatangan, telah terpisah-pisah dan berbeda tempat pemukiman.

Suku Pasemah, kaya dengan nilai-nilai adat, tradisi dan budaya yang khas. Masyarakat di tanah Pasemah sejak dulu sudah memiliki tatanan dan aturan masyarakat yang bernama “Lampik Empat, Merdike Due” yakni, "Perwujudan Demokrasi Murni", yang muncul, berkembang, dan diterapkan sepenuhnya, oleh semua komponen masyarakat setempat.

Menurut masyarakat suku Pasemah, asal usul mereka diawali dengan kedatangan Atong Bungsu, sebagai nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat, yang datang dari Hindia Muka, yang memasuki wilayah Sumatra Selatan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Pada saat kedatangan si Atong Bungsu, ternyata sudah ada 2 suku yang terlebih dahulu menempati daerah itu, yaitu suku Penjalang dan suku Semidang. Mereka bersepakat untuk sepanjang hidup sampai anak keturunan tidak akan mengganggu dalam segala hal. Atong Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya Puyang Diwate, Puyang Mandulike, Puyang Sake Semenung, Puyang Sake Sepadi, Puyang Sake Seghatus dan Puyang Sake Seketi, menjadi suatu kelompok masyarakat Jagat Besemah atau yang disebut sekarang sebagai suku Besemah (Pasemah).Disebutkan, Atong Bungsu berkembang dan mempunyai keturunan. Keturunannya menyebar ke berbagai tempat dan membentuk beberapa kelompok, yaitu suku Sumbai Besar, Sumbai Pangkal Lurah, Sumbai Ulu Lurah, dan Sumbai Mangku Anom. Ke 4 suku ini disebut sebagai kelompok suku Lampik Empat. Jadi di wilayah Sumatra Selatan pada masa itu terdapat 6 suku yang menyatu dan membentuk suatu kelompok masyarakat yang memiliki tatanan demokrasi modern.
Dalam beberapa tulisan di beberapa situs internet, disebutkan bahwa Atong Bungsu sebagai nenek moyang suku Besemah berasal dari Majapahit. Agak sedikit membingungkan!, Karena orang Pasemah atau Besemah, telah ada sejak masa Kerajaan Sriwijaya atau bahkan sebelum masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 6. Sedangkan Majapahit baru ada sejak abad 12. Mungkinkah suku Pasemah yang telah ada sejak abad 6, berasal dari nenek moyang yang hidup pada abad 12 ? hal ini perlu ditelaah lebih lanjut.. Suku Pasemah berasal dari Atong Bungsu, bisa diterima oleh akal, tetapi kalau berasal dari Majapahit, sepertinya tidak masuk akal. Karena orang Pasemah sendiri jauh lebih tua dari Kerajaan Majapahit, dan bahkan mungkin telah ada sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Orang Pasemah, adalah orang-orang yang pemberani dan memiliki sikap setia kawan terhadap siapapun yang dianggap telah menjadi kawan, serta loyal dan berkomitmen. Sikap dan kepribadian orang-orang Pasemah ini justru diakui oleh beberapa penulis Belanda di zaman kolonial.


SUKU BESEMAH BAGIAN KECIL DARI KERAJAAN SRIWIJAYA

MUARA PAYANG

Pada hari ini merupakan tonggak sejarah pertama bahwa di BESEMAH atau dikenal dengan sebutan PASEMAH di Sumatera bagian Selatan dilaksanakan Seminar Sejarah dengan Tema “ Dengan Seminar Nasional Peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya, kitKIta Wujudkan persatuan dan Kesatuan Bangsa Serta Rasa Cinta Tanah Air”.
Sepengetahuan kami belum pernah ada seminar sejarah sekhusus ini di tempat ini (TANAH PASEMAH) yang mengaitkan jagat Pasemah dengan Kerajaan Sriwijaya.
Ini membuktikan perspektif sejarah untuk di teliti secara ilmiah tidak terbatas waktu dan tempat dipandang dari berbagai disiplin ilmu termasuk juga temuan-temuan benda-benda bersejarah yang diketemukan kemudian.
Jadi Sejarah adalah riwayat masa lampau, suatu riwayat yang menjelaskan asal dan proses suatu peristiwa sejarah. Secara umum sejarah dikaitkan dengan peninggalan-peninggalan benda masa lampau misal patung, situs, candi, senjata kuno, budaya-budaya kuno dan lain-lain.
Dismping itu sejarah menapilkan dimensi ruang dan waktu. Setiap pristiwa selalu mengandung tiga unsure yaitu pelaku, tempat, dan waktu. Peninggalan msa lampau lebih berkonotasi pada keadaan yang belum tersentuh manusia masa kini. Peristiwa sejarah sebagai perisrtiwa sejarah itu susngguh-sungguh terjadi ( Hitorialita) sudah berlalu, peristiwa masa lampau tidak mungkin tampil di hadpan masa kini.
Tidak ada manusia yang dapat melarikan diri dari sejarah. Namun tidaj semua manusia dapat menyadari diianya sebagai pelaku sejarah apa lagi berkesadaran bersejarah
Mudah-mudahan dengan seminar ini menyadarkan kita betapa pentingnya arti berkesadaran sejarah untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam pembangunan NKRI.



BESEMAH BAGIAN DARI SRIWIJAYA

Sebagai mana kita ketahui bahwa bangsa Indonesia sangat majemuk sekali keberadaannya dari sabang sampe maroke, beranekaragam suku bangsa, beranekaragam adapt, budaya, bangsa bahkan tanggan agama yang dianut dapat dilihat dengan jelas
Demikian suku bangsa BESEMAH atau PASEMAH merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari suku bangsa yang ada dibumi nusantara ini.
Menurut sejarah dan crita yang diyakini sejak zaman dulu hingga saat ini, nama “ BEEMAH” atau “ PASEMAH “ asal mula puang “ATONG BUNGSU “ mencari dengan keluarga dan rombongannya.
Pada akhirnya puyang ATUNG BUNGSU melihat dan menemukan ikan SEMAH dipeairan dataran tinggi dantara bukit barisan dan gunung dempo hingga wilayah / daerah ini diberimana “ BESEMAH “.
Dengan perkembanggannya ada dimanakan “ TANAH BESEMAH”, “RANA BESEMAH”, “JAGAT BESEMAH”, demikian penduduk asli ( Masutim ) menamakan kelahirannya.
Hikayat nenek moyang ini dapat dari penuturan tua-tua terdahulu, secara tertulis belum ditemukan.
Sebelum kita memaparkan lebih jauh,mari kita keadaan PASEMAH dari zaman ke zaman antara lain :
- zaman ketika Pasmah mengalami kemajuan karena usahanya sendiri, zaman kemerdekaan sekian ratus tahun yang berlalu bahkan beberapa yang lalu, dapat dilihat dari :
 Geografis, Siapa orang Pasemah (asal usul),, Budaya, Bahasa, Pemerintahan, Peninggalan-peninggalan benda bersejarah megalit, candi, situs, dll .

- Zaman keadaan sriwijaya → 700 tahun sudah ada
- Zaman kesultanan Palembang (1600 – 1825)
- Zaman Kolonial Inggris dan Belanda (abad 18 dan 19)
- Zaman kemerdekaan Indonesia (1945-sekarang)

Dalam seminar ini kami membatasi hanya sampai ke BESEMAH adalah bagian dari sriwijaya.
I. Geogarafis Pasemah
Pasemah secara geografis terletak kearah sebelah barat Kota Palembang atau di pedalaman Sumatera Selatan. Terhampar di lereng-lereng bukit dan gunung dempo, dengan ketinggian ± 3200 m diatas permukaan laut. Sebelah timur membujur kearah bukit besar sedangkan keselatan membujur kearah gunung atau bukit patah. Daerah Pasemah menurut penyebaran penduduk dibagi menjadi beberapa bagian yaitu Pasemah lebar, Pasemah Ulu Manna, Pasemah Ulu Lintang, Semendo, Pasemah Air Keruh, Pasemah Kikim, Pasemah Merapi dan Bandar Agung, Muaradua Kisam dan Makakao.
Punggung Gunung yang membentang dari bukit jambul kearah selatan menuju bukit pancing memisahkan Pasemah Lebar dan Pasmah Semendo selanjutnya kearah yang sama kegunung patah di ujung paling selatan dan kearah barat kebukit Umang, kemudian kearah utara Gunung Dempo memisah antara Pasemah Lebar dengan Pasmah Ulu Manna.

II. Siapakah orang Besemah atau Pasemah ?

Secara tertulis pula, rumpun sukubangsa pasemah belum diketemukan hingga banyak pendapat atau penulis sejarah pasemah terdahulu menulis dan meriwayatkan bahwa rumpun orang Pasemah termasuk antara lain :
- Orang Pasemah berkumpul ke Bengkulu
- Orang Pasemah berkumpul ke Jawa
- Orang Pasemah berkumpul ke Lampung
- Orang Pasemah berkumpul ke Muka
- Orang Pasemah dari daratan timur Asia dan seterusnya
Dari sekian banyak pendapat ini, penulis mengajak mempelajari dari pakar sejarawan berbagai disiplin ilmu untuk mengetahukan ras-ras umat manusia dan migrasi bangsa-bangsa masukan ke Nusantara.

III. Melayu tua dan melayu muda
Dinamika gerak awal penduduk di Asia Tenggara (2000-3000 tahun SM) dari (Keith Buchana – The Southeast Asia World halaman 27).
Sebagian besar penduduk indonesia termasuk Ras Paliomongoloid, sebutan yang dberikan oleh VON ELCKSTEAT untuk Ras Melayu, sebagai cabang dari Ras Induk Kuning. Ras Malayu ini yang menyebarkannya dari sumber aslinya (mungkin tibet) menuju ke selatan Hindia Belakang.
Di Hindia belakang ada dua pusat penyebaran. Dari daerah Yunan di Cina selatan berangkalah suku-suku yang tergolong proto Melayu Tua. Sedangkan dari dataran Dongson di Vietnam Utara berangkatlah Deutro Melayu Muda. Melayu sebagai keseluruhan adalah dengan ciri-ciri fisik (generologis) rambut lurus, kulit kuning kecoklatan dan kadang-kadang masih sipit pelupuk matanya bahkan masih banyak yang berkulit putih dan sipit matanya.
Antropolog Fischer berpendapat bahwa kelompok Melayu Tua datangnya di Nusantara lebih dulu dari pada kelompok Melayu Muda. Migran-migran pendahulu itu menempati pantai-pantai Sumatra selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat.
Tetapi kemudian kaerana tersesak oleh kelompok Melayu Muda yang datang kemudian, kelompok Melayu Muda lanjut k pedalaman dan hidup tersolasi sehingga muncullah peradaban mereka ini suku-suku Dayak dan Toraja. Adapun suku Batak kemudian memiliki jalan Barat menguasai pantai-pantai barat dan malaka, buktinya pada suku Karen dan Burma (Birma) banyak terkandung kemiripan fisik, bangsa dan suku Batak.
Perpindahan mereka di Nusantara dapat ditelusuri rutenya yang berupa terbesarnya alat-alat mereka tinggalkan secara berceceran yakni kapak persegi panjang (rectangular axe) kedapatan di Malaka, Sumatra Kalimatan dan Sulawesi.
Hal yang menarik adalah kontradeksi mengenai fakta yang telah ditemukannya kapak persegi panjang dalam jumlah lebih besar justru di luar daerah Melayu Tua yakni Sumatra Selatan (Pasemah) dan di jawa.
Kelompok Melayu Muda seperti ditunjukkan di atas berasal dari Dongson Vietnam Utara. Mereka ini telah membuat perkakas dari perunggu. Peradapan mereka di tandai dengan kemampuan mengerjakan logam dengan sempurnah. Di bidang pengolahan tanah pertani yang berhasil mereka tercipta dengan membabat hutan terlebih dahuli. Sudah selakyaknya mereka mencari daerah-daerah Sumatra dan Jawa untuk digarap seperti di Negeri asal-usul mereka.
Menurut perhitungan sejarah, nenek moyang orang Melayu, Sumatra, jawa dan Kalimantan ini datangnya pada tahun 1500 sebelum Tarikh Masehi memeperlihatkan penyebaran bahasa-bahasa daerah menurut suku-suku Melayu.
Untuk menelusuri penjelasan di atas atau yang telah dikemukakan diatas dikandung maksud migran-migran masuk ke Nusantara atau untuk melihat penyebaran penduduk di Bumi Nusantara.
Khususnya di Sumatra bagian Selatan suku bangsa Pasemah banyak kemiripan dengan asal kedatangannya di Negeri asal-usul mereka. Hal juga dapat kita lihat dari penelitian pakar pra sejarah dan kepurbakalaan awal abad 19 sampe tahun 1935 adanya peninggalan-peninggalan pra sejarah.

IV. Zaman Megalitik
Megalitic Remain in South Sumatra
Pasemah mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah kebudayaan Indonesia, karena peninggalan tradisi megalitik yang berjumlah ratusan buah.
Robert Von Heinz Gelderen pakar kepurbakalaan mengatakan peninggalan tradisi megalitik berupa batu besar berbentuk manusia secara utuh seperti arca batu tinggi hari, Muara Dua dan Pulau panggung menggambarkan arca pendeta leluhur dinegri Cina sebagai altar pemujaan leluhur ini juga mengigatkan negeri asal, arca ditinggi hari memakai semacam topi yang bagian belakang sisi kiri dan kanan cobing, membatasi bagian muka dengan kepala. Jelas terlihat bahwa arca ini memakai topi khas Cina yang di perkirakan zaman Dinasti Tang dan Ming (618-207 SM).
Sejarah dengan itu tanah Pasemah banyak ditemukan batu megalitik zaman Hindu-Budhaoleh pakar arkeologi dalam bukunya “ DE HINDOE OUDHEDEN IN DE PESEMAH HUOGLAKKTE (RESIDENTE PALEMBANG) DOOR LC. WESTENK” tahun 1932. juga ilmuwan-ilmuwan arkeologibangsa Eropa yang tidak kami tulis satu per satu dan batu megalitik (arca) ini banyak ditemukan di Dusun Tegu Wangi dan di dusun lain Pasemah, inilah sedikit dari gambaran peninggalan zaman megalit.
Di dataran tinggi Pasemah banyak terdapat arca atau patung-patung yang menggambarkan manusia masa kini (diluar arca zaman Hindu) menurut hikayat dan legendanya patung / arca ini kutukan dari puyang serunting sakti terkenal dengan sebutan sipahit lidah lainnya terkenal dengan cerita pertempuran antara sipahit lidah dan aria tabing kerena jagat Pasemah terkenal dengan sebutan Bumi sipahit lidah.

V. Agama dan kepercayaan
Menurut beberapa penulis Barat bahwa sebelum masuknya agama islam di Pasemah dahulu masyarakat menganut Aninisme tetapi ini sangat di ragukan sebab pada dasarnya aninisme adalah suatu bentuk pekercayaan primitif yang memuja benda-benda yang di percaya mempunyai atau didiami roh halusmemang keprcayan aninisme banyak dianut suku-suku yang ada di indonesia seperti di kepulauan Nias, Tapanuli (Batak), suku Dayak di Kalimantan dan suku dikepualauan Irian (suku asmat). Suku ini membuat patung dari kayu yag disebut “TOTEM” di pakai dalam upacara keadatan mereka.
Tetapi ciri-ciri khas sperti itu atau pemujaan benda-benda yang di buat sendiri atau terhadap benda lainnya seperti batang, kayu terdapat dalam keadatan Pasemah (Upacara Adat Pasemah)
Ada pendapat lain bahwa orang Pasemah sangat percaya pada apa yang disebut puyang sebgai leluhur yang sangat di hormati, disegani. Karena puyang-puyang ini disamping asal-usul keturunan juga mempunyai kesaktian terlihat ini jelas hingga sekarang masih diceritakan dan diakui walau pun sebelum agama islam masuk juga ada pengaruh dari agama Hindu dan Budah, seperti nyeran masuk hitan panen padi pada sanghiang sri dan ada lagu (gegerit) yang menyebut Sang Batare Dewe di Kahyangan.
Dalam kitab-kitab dalam bahasa sang sekerta pada awal tahun masehi di sebut Pulau Jawa dengan nama Jawadwipa dan Sumatera dengan nama Suwarnadwipa.
Menurut pararaton mereka datang dari negeri Kalingga, Keling dan pantai tanah Malakadwipa dari kamboja (Campa) dalam babad itu banyak nama tempat ke Pualauan Hindia yang berganti arah ke tenggara sambil berdagang mereka mengajarkan agama dan kebudayaan serta tata cara mereka tidak menularkan atau mengembangkan ilmu pengtahuan saja melainkan mempengaruhi orang-orang Sumatra, Jawa, Bali, dan Sumbawa.
Dalam pararaton dijelaskan pula bahwah tempat peristirahatan dalam perjalannya terletak di pilau Sumatra yang berawa-rawa serta berhutan belantara jelaslah Palembanng dan Jawa bagian tengah menjadi tumpuan bertempat tinggal orang hindu dan Budha ( dalam buku Prapanca Negara Kertagama Kerajaan Sriwijaya adalah pusat pendidikan agama Hindu Budah

VI. Bahasa dan Tulisan 
Bahasa Besemah (Pasemah) termasuk dalam bahasa Melayu. Namun demikian para ahli bahasa mengatakan bahwa bahasa Pasemah dalah bahasa Melayu Tua. Hal ini dapat dibuktikan dari linguistik khas Pasemah dan di perbendaharaan kata-kata tidak sama dengan kebanyakan bangsa Melayu pada umumnya di Pulau Sumatera antara lain Bahasa Melayu Deli, Melayu Riau, melayu Jambi, dan Melayu Pulau Bangka, dll. Dalam tulisan orang Pasemah tempo dulu sudah mengenal apa yang disebut tulisan huruf “ULU” atau Akasara Rencong disebutRenceng karena ditulis patah-patah.

VII. Kebudayaan Pasemah
Sebagai suku bangsa yang mempunyai kebudayaan yang tinggi ada beberapa peninggala-peninggalan nenek puyang yang sampai saat ini masih ada dan dipelihara antara lain :
- Rumah Dempo Dulu ( Rumah adat Bahari) yang banyak terdapat di dusun (Kampung) lama. Rumah adat ini dinamakan Rumah Beunjung Bertihang Sembilan, dengan ukiran ciri pada zaman matahari mati. Ciri-ciri ukiran ini dari zaman dinasti di Cina (Zaman Dinasti Tang dan Dinasti Ming)
- Zaman tempo dulu nenek puyang ahli dibidang membuat kain tenun ikan khas Pasemah, juga dalam kesenian ada tarian khas Pasemah, tari Reban, Gegirit, rejung dll.
- Yang tidak kalah pentingnya di Besemah Jurai Sumbaiadalah suku-suku yang mempunyai beberapa jenis senjata yang terbuat dari besi. Senjata yang dibuat daei besi ini dari zaman Kerajaan Sriwijaya ( ciri-ciri pembutannya sangat jelas dari zaman Hindu Sriwijaya ) seperti :
§ Kerisis Tata Runjune Pusaka Dewe Semidang
§ Rentakeu dan Buntag Bujuk Pusaka Sumbai Tanjung Raga
§ Keris Kerian Tangis Pusaka Sumbai Ulu Lurah
§ Siwar Lawang dan Keris Santan Apung dll
Dahulu menurut cerita senjata-senjata tersebut mempuyai kekuatan magis (sakti).sebenarnya banyak pusaka-pusaka orang Pasemah dari kerajaan Sriwijaya.

VIII. Pemerintahan Adat yang Dinamakan “ Lampik Empat Merdike Duwe”

Di Besemah Pemerintahan adat / kekuasaan adat “ Lamping Empat Merdike Duwe” , adalah kekuasaan adat yang tidak mempuyai komdifikasi, pada dasarnya untuk mengatur tatanan, nomor-nomor kehidupan berdasarkan kebiasaan yang ada dalam masyarakatnya, demikian di Pasemah secara populer dalam bahasa asingnya disebut “The Unwritten Adat Law” atau Jus Non Scriptum (hukum asli penduduk).
Hukum adat adalah suatu yang hidup, karena ia menjelmahkan perasaan hukum yang nyata dari rakyat dengan f itrahnya sendiri, adat terus menerus dalam keadaan tumbuh dan berkembang seperti hidup itu sendiri (Pakar Hukum Adat, Prof. Dr. R. Seopomo, SH (UJ 1962 hal 6)
Pada zaman kemerdekaan Besemah (Pasemah) rumpun-rumpun seketurunan yang membentuk kesatuan genelogi dan mencetuskan kesatuan-kesatuan bersifat teriorial. Kesatuan masyarakat ini adalah :
- Sumbai Besar
- Sumbai Tanjung Raya (Pangkal Lurah)
- Sumbai Ulu Lurah
- Sumbai Mangku Anom
- Sumbai Suku Semidang
- Sumbaisuku Penjalang
Kesatuan masyarakat tersebut diatas yang melaksanakan aturan-aturan adat di dalam masyarakanya. Kepala sumbai suku ini adalah pimpinan adat bersama-sama Junai Tua sebagai DewanAdat (sama dengan perwakilan rakyat) sumbai dan suku dalam pemerintahan adat (pelaksana adat) “ Lampik Empat Merdike Duwe” kepala atau ketua Pasemah dipilih atau ditetapkan dari ketua sumbai “Lampik Empat Merdike Duwe” dengan nasehat dan pertimbangan Mrdike Duwe. Maka secara bersamaan di pasemah kekuasaan adat tadi disebut “ Lampik Empat Merdike Duwe” suatu pemerintahan yang kuat demokratis.
Oleh Dr. Van Rooyen ( dalam bukunya “de Palembangsche marga en Hare Grand en Waterrechten) dikatakan sebagai suatu “Een Republiek in den meest democratisheunzin” suatu republik arti seluas kata. Kebenaran kata-kata Dr. Van Rooyen tersebut juga oleh penulis barat lainnya berpendapat sama ( Dr. BJ Hage-Haven-Granberg-wilken-Dr. Lublink Widdik dan Sri Thomas Stanford Raffles) diantaranya menulis buku promotion/skripsikesarjanaan mereka buku “memore van overgranve atau buku “Kolonial Studien”.
Perlu dicatat dan diketahui bahwa pemerintah adat “Lampik Empat Merdike Duwe” ini tidak di bawah kekuasaan Sultan Palembang yang baru terbentuk abad 16-1825 tahun masehi oleh kesultana Banten dan Kesultanan Cirebon. Karena itu di Besemah tidak mengenal istilah sultan atau sunan.
Berakhirnya kekuasaan adat “Lampik Empat Merdike Duwe” setelah Belanda dan Inggris mengekspansi ke tanah Pasemah yang terakhir di Sultan selatan. Keterangan ini didapat dari MRHAJ Oecker Asisten Residen Palembang bahwa dalam masa mengekpansi ke pasemah melalui tiga arah antara lain :
(Tiga Rangkaian Sejarah Perlawanan Rakyat Pasemah)
- Dari daerah Bengkulu ke Pasemah Ulu Manna selnjutnya ke tanjung sakti oleh inggris tahun 1790 sampai 1821 M
- Dari daerah Tebing Tinggi ke Pasemah Ulu Lintang oleh Belanda tahun 1852 M.
- Dari Lahat berakhir tahun 1866 M ke Pasemah Lebar

IX. Kerajaan Sriwijaya
Berdasarkan buku-buku sejarah Indonesia bahwa pada zaman keemasannya kerajaan sriwijaya pengaruhnya sampe ke Cina, Kamboja, Thailand hal ini ditulis pada babad Cina dan berdasarkan prasasti-prasati yang ditemukan di Palembang, Jambi antara lain Prasasti Keduikan Bukti yang menunjukkan tahun 5 Ashade 605 saka atau bulan Juni 683 Masehi oleh Dapunta Hyang (isi Prasasti tidak kami tulis)ini pada waktu Seminar sejarawan untuk menentukan hari jadi Kota Palembang (Bulan April 1972).
Dalam buku “Negarakertagama” yang ditulis Prapanca adalah buku yang merupakan (Buku Banbon) sejarah-sejarah kerajaan di Bumi Nusantara yang di tulis dalam huruf Sanskerta tahun 1287-1365 masehi.
Menjelaskan bahwa kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kerajaan dan bandara yang cukup ramai. Pusat dan bandara inilah disebut Palembang (sekarang ini) dan kerajaan riwijaya ini yang menjadi pusat pengembangan pendidikan agama Hindu dan Budha.
Dalam Perjalan sejarahnya pada Dinasti Syailendra bagian dari Raja-raja Sriwijaya pada Zaman Keemasannya pada akhir abad ke-8 masehi pernah meletakkan titik kekuasaannya di daerah Jawa Tengah (Magelang) yakni bangunan suci yang sampai saat ini masih berdiri yaitu candi Borobudur, Mendut dan Candi Pawon adalah hasil karya seni bagunan dan seni pahat dalam kerangka arisitektur yang tidak ternilai.
Pada dinding-dinding Candi digambarkan diantaranya relief-relief pelajar sedang belajar agama Budha dll dan yang tidak kalah pentingnya adalah prasasti bahwa candi ini dibuat oleh syailendra Raja Sriwijaya. Dan Candi Borobudur ini merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia Bahkan merupakan seni bangun pra sejarah tingkat dunia.
Berdasarkan cerita-cerita tetua/leluhur orang Besem,ah dan sangat diyakini bahwa Putri Sandang Biduk adik dari Puyang Atong Bungsu kawin dengan Raja Sriwijaya.
Menjelang kehancuran oleh serbun Cola Mandala dalam tahun 1024/1025 M dan dikisahkan dalam buku Negarakertagama, sriwijaya ditundukan oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1377 Masehi oleh Raden Wijaya dengan gelar Prabu Kertagama, dan disebut juga prabu Brawijaya.

Maksud dan Tujuan
Dengan adanya seminar Nasional Besemah ini maka akan menghasilkan karya ilmiah bagi masyarakat Pasemah, rakyat Sumatera Selatan dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Kesimpulan
Dari hasil pemaparan tersebut di atas maka penulisan menyimpulkan bahwa Pasemah masih eksis untuk diteliti secara ilmiah dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat dijadikan ilmu pengetahuan baik masa kini maupun yang akan datang.


Asal Mula Nama Besemah


Nama Besemah berasal dari nama ikan Semah, ikan ini termasuk golongan ikan-mas. Sedikit cerita tentang nama Besemah, yang konon katanya berasal dari cerita tentang istriRaden Atung Bungsu yang saat itu sedang mencuci beras disungai dan tiba-tiba ada seekor ikan Semah masuk kedalam Bakul atau tempat beras tersebut, lalu ikan itu lasung dibawa pulang oleh Kenantan Buwih (istri Raden Atung Bungsu) setiba dirumah ia pun menceritakanya ke Raden Atung Bungsu. dan tanpa pikir panjang dan penuh keherananRaden Atung Bungsu pun mengatakan tanah tempat dia tinggal ini akan dinamakanBESEMAH.

Secara ilmu pengetahuan Besemah berasal dari kata Semah dan di beri awalan Be (ber), kata Be atau ber itu sendiri berarti 'ada'.

Namun Besemah sering kali membuat orang-orang bertanya 'yang benar itu Besemah atauPasmah.?'
Nah..hal ini la yang membuat banyak orang bertanya, sebenarnya Besemah dan Pasmah itu saling berhubungan tetapi lain cerita dan asal muasalnya. Untuk Pasmah sendiri akan aku jelaskan dalam postingan berikutnya.

Pengertian Jagat Besemah.

Pernah mendengar kata-kata JAGAT BESEMAH..? pengertian Jagat sendiri bukan semata-mata mengacu pada semesta alam raya ini melainkan memberi pengertian dalam suatu pemerintahan pada zaman sejarah Besemah dahulu yang memiliki wilayah yang luas.

Jagat Besemah sendiri merupakan masa kekuasaan Atung Bungsu dan didirikan oleh Atung Bungsu itu sendiri.

Besemah dan Wilayah-wilayahnya

Adapun wilayah-wilayah besemah sebagai berikut:

Terdiri dari 18 Wilayah di Besemah:
1. Wilayah Besemah Libagh (Besemah Lebar), terdiri dari:
- Wilayah Pagaralam (Kota Pagaralam), termasuk Ulu Ayik (Ulu Selangis) dan sebagian Besemah Tengah atau Besemah Tengah Padang (Besemah Belah Sini Ndikat).
- Wilayah Besemah Seberang Ndikat (saat ini Kecamatan Kota-agung)
- Wilayah Impit-bukit dan Padang-tinggi (kini Kecamatan Pajarbulan).
2. Wilayah Mulak-Pagargunung, (dalam Kabupaten Lahat) yang terdiri dari:
- Wilayah Mulak Ulu (kini Kecamatan Mulak Ulu)
- Wilayah Pagargunung (kini Kecamatan Pagargunung)
- Wilayah Mulak Iligh (Mulak Ilir), kini termasuk Kecamatan Merapi.
3. Wilayah Gumay Tige Jughu (Tiga Segi), (dalam Kabupaten Lahat), terdiri dari:
- Wilayah Gumay Lembak, termasuk Suku Lime
- Wilayah Gumay Ulu, termasuk Semidang Empat Dusun
- Wilayah Gumay Talang di Kikim Kecik
4. Wilayah Lematang (dalam Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muaraenim), yang terdiri dari:
- Wilayah Lematang Ulu, termasuk Lahat, Bandaragung, dan Merapi
- Wilayah Lematang Iligh
5. Wilayah Kikim
6. Wilayah Besemah Ulu Lintang (kini Kecamatan Jarai)
7. Wilayah Besemah Ayik Keghuh (kini Kecamatan Besemah Air Keruh)
8. Wilayah Besemah Ulu Manak (Tanjungsakti)
9. Wilayah Besemah Ulu Alas (dalam Kecamatan Talo Kabupaten Seluma Bengkulu Selatan)
10. Wilayah Besemah Palas (Kecamatan Palas Pasemah di Kabupaten Lampung Selatan)
11. Wilayah Kisam, termasuk Bayur di Kabupaten OKU Selatan
12. Wilayah Mengkakaw di Kabupaten OKU Selatan
13. Wilayah Rebang di Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung
14. Wilayah -Wilayah Semende Panjang
15. Wilayah Inim dan Ulu Inim
16. Wilayah Ulu Ogan (kini Kecamatan Ulu Ogan)
17. Wilayah -Wilayah Kedurang, Padang-guci, Kelam, Kinal, dan Luwas di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu
18. Wilayah Lintang (Lintang Kanan dan Lintang Kidaw).




AWAL BERDIRINYA KERAJAAN SRIWIJAYA

AWAL BERDIRINYA SRIWIJAYA

Pada tahun 600 Masehi terdapat suku di pedalaman Sumatera Selatan yang di kenal dengan nama suku skala Bhra ( purba ) artinya segara brak. yang berasal dari sekitar danau RANAU yang berarti segara brak atau air yang luas , suku ini mendiami daerah pegunungan dan lembah di sekitar gunung SEMINUNG daerah perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung .yang dari dulu hingga sekarang di sebut RANAU
Suku ini terpecah menjadi dua kelompok masyarakat, yang pertama yang mendiami kawasan sekitar gunung SEMINUNG dan turun ke lembah bagian utara sampai ke Lampung kemudian sebagian lagi turun ke daerah bawah dengan mengikuti aliran sungai di daerah huluan sumatera selatan yang kemudian di kenal dengan suku SAMANDA_DI_ WAY yang berarti orang yang mengikuti aliran sungai dan berakhir di Minanga ( Purba ), suku ini yang kelak kemudian asal mula suku Daya, Komering, RANAU,( Van Royen -1927 )
Kenyataanya sekarang orang RANAU tetap berada di sekitar danau RANAU, tidak pernah pindah mengikuti aliran air (wai Wala/Selabung), karena pada dasarnya mereka adalah Suku Induk dari Rumpun SEMINUNG, di sini yang sebenarnya terjadi adalah bahwa Pemecahan Dari suku RANAU pada zaman Kerajaan RANAU Purba ( terdeteksi sudah berdiri pada abad ke 3) ini berdasarkan catatan dari tiongkok
“Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.”
Itu berarti sebelum berdirinya Kerajaan Skla Brak yang berdiri abad ke 4, Pecahan dari suku induk ini yang kemudian membelah kearah utara, sebagai cikal bakal Keturunan Skala Brak, dan Ke selatan yang kelak di kenal dengan Suku Komring dan daya
Minanga karena kedudukannya di tepi Pantai di tinjau dari berbagai segi memikul beban sebagai ibukota negara. Adapun bahasa yang mereka pergunakan adalah Bahasa Malayu Kuno atau Proto Malayu yang merupakan cikal bakal bahasa komering, yang berasal dari didaerah uluan sumatera selatan.(yang di maksud komring uluan disini adalah hulu dari sungai komring yaitu danau RANAU, tidak bisa di pungkiri berarti yang di maksud adalah-bahasa-RANAU)
Kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang Raja yang hebat dan sakti , yang bernama JAYA NAGA kemudian oleh masyarakat pedalaman di beri Gelar DA-PUNTA-HYANG yang berarti Maha Raja yang Keramat , sekarang pun di daerah uluan sumatera selatan masih dapat kita kenal gelar Pu-Yang untuk orang yang kita anggap sesepuh maupun orang yang mempunyai kesaktian tinggi..
Kerajaan ini kemudian di kenal dengan negeri kedatuan SRIWIJAYA disebut juga dalam kronik ( tulisan ) di negeri china yaitu kerajaan Shi Li Fo Shih

Kerajaan ini setiap tahun nya mengirim utusan ke negeri china tercatat sejak tahun 670 s/d 742 yang pada saat itu di negeri China sedang berkuasa Dinasti Tang ( 618–907 ).
Disebut pada dalm satu tulisan di negeri China bahwa ada kerajaan dari laut china selatan yang selalu mengirim utusannya ke Tiongkok, kerajaan itu bernama Shi-Li-Fo-Shih yang di transeleterasikan menjadi Sriwijaya.

Pada tahun 671 Masehi seorang pendeta China yang bernama It-Tsing mengunjungi kerajaan ini dalam perjalanannya menuju India untuk memperdalam ajaran Budha.
It-Tsing menetap 6 bulan di Minanga ibukota kedatuan Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sansekerta , dengan bantuan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga , It-Tsing Berangkat menuju tanah Melayu ( Jambi ) dan menetap selama 2 bulan sebelum melanjutkan perjalanan melalui Kedah terus keutara menuju India.

Dapunta Hyang Sri JayaNaga sangat di sayangi dan di sanjung oleh rakyatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga merupakan pemimpin yang arief , bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Jaya Naga juga seorang penganut Budha yang taat. Dengan Kesaktiannya ia dapat mengetahui dan membaca gerak gerik alam, langit, matahari,bulan, bintang , hawa, hujan, angin, batu, tanah dan hewan, sehingga penduduk kedatuan ini menganggap Jaya Naga merupakan sosok titisan Dewa diatas Brahmana yang merupakan perantara manusia dengan sang Ghaib yang diturunkan ke bhumi untuk menjaga dan melindungi pulau surga (Swarna Dwipa). Setiap kata yang diucapkannya merupakan petunjuk, setiap petuah dan nasehat menjadi adat dan istiadat, kebaikannya merupakan anugerah dan kebahagian bagi penduduk dan kemarahan beliau merupakan malapetaka.
Setiap daerah taklukkannya Jaya Naga selalu menunjuk pemimpin setempat yang di ambil dari Jurai Tua ( sesepuh masyarakat ) untuk menjadi Datu ( Ratu – pemimpin ) di daerahnya sendiri tetapi tetap terikat sebagai bagian dari daerah kedatuan Sriwijaya.
Jaya Naga juga mampu menyatukan beberapa rumpun suku yang ada di daerah pedalaman atau uluan sumatera selatan yang awalnya semua penduduk berasal dari tiga rumpun suku yang mendiami tiga gunung yang ada yaitu Suku dari Gunung SEMINUNG atau RANAU Sebagai penurun suku Lampung Skala Brak dan Komring ), Gunung Dempo dan Bukit Kaba, System pemerintahan inilah yang kelak menjadi asal mula system pemerintahan Marga yang ada di daerah uluan sumatera selatan.
Kedatuan Sriwijaya terkenal merupakan kerajaan yang makmur dengan hasil alamnya berupa kayu kamper, kayu gaharu, Pinang, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.

Selain itu juga kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana yang mana daerah ini merupakan perlintasan perjalanan para pendeta budha yang ingin memperdalam pertapaannya dari India ke China maupun sebaliknya, dan dalam perkembangannya kerajaan Sriwijaya merupakan pusat Studi agama Budha di kawasan Asia tenggara terutama daerah semenanjung Selat Malaka dan Selat Sunda terbukti dari catatan It-Tsing, kerajaan Sriwijaya mempunyai 1.000 pendeta Budha, pendeta Budha yang cukup terkenal dari Kedatuan Sriwijaya ini bernama Sakyakirti.
Penduduk kerajaan ini sebagian merupakan petani dan sebagian lagi merupakan saudagar yang melakukan perdagangan dengan India , Melayu dan China . Pedagang dari Tiongkok dagang ke Sriwijaya dengan membawa keramik ,porselein dan sutra untuk di tukarkan dengan emas, permata dan komoditas lain dari negeri ini yang merupakan tempat dimana komoditas penting pada jaman itu sampai dengan sekarang merupakan kekayaan alam pulau ini sehingga orang pada masa itu menyebut pulau ini dengan Pulau Surga ( Swarna Dwipa ) .
Kerajaan ini di aliri oleh sungai-sungai ( kanal-kanal) kecil yang memasuki perkotaan sehingga perahu merupakan sarana transportasi penting masyarakat kota tersebut sehingga kerajaan ini terkenal dengan armada kapal – kapal yang kuat dan rapi yang kemudian dapat menguasai seluruh kawasan pelayaran di selat Malaka dan selat Sunda .

Pada saat itu pelabuhan Palembang yang merupakan pintu masuk ke perairan sungai-sungai yang ada di uluan sumatera selatan banyak di kuasai perompak-perompak.
Kondisi seperti ini membuat kapal kapal yang berlayar di pantai timur pulau sumatera berlabuh di pelabuhan Melayu ( Jambi ) kemudian melanjutkan pelayaran tanpa memasuki pelabuhan Palembang.
Kisah perkembangan kerajaan Sriwijaya ini dimulai dari apa yang diutarakan dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada Hari kesebelas bulan terang bulan Wai Saka tahun 605, Dapunta Hyang Jayanaga berperahu kembali ke Minanga selepas melakukan pertapaan di gunung SEMINUNG. Dalam pertapaannya Jaya Naga meminta restu dan memohon petunjuk dan kekuatan dari sang Ghaib di Gunung SEMINUNG untuk menaklukkan tempat-tempat yang strategis agar dapat menguasai jalur pelayaran di Laut Cina Selatan di karenakan pada waktu itu Minanga ( ibukota kerajaan ) terletak dalam suatu teluk dimana sungai komering bermuara kurang strategis di pandang dari sudut perdagangan.

Untuk Mewujudkan cita – citanya tersebut Dapunta Hyang Sri Jaya Naga melakukan konsolidasi dengan daerah belakang yang satu rumpun yaitu rumpun Sakala Bhra (Purba). Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga menaklukan daerah yang juga satu Rumpun tersebut yang terletak di sekitar bukit Pesagih di Hujung Langit Lampung Barat dan kemudian semua penduduk di ikat oleh Sumpah setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. ( Prasasti Hujung Langit – Lampung Barat )
Sepulang dari penaklukan daerah belakang makin kuatlah pasukan kerajaan Sriwijaya yang di dukung oleh pasukan tambahan dari satu rumpun, pasukan atau laskar sriwijaya terkenal akan keberanian, dan kekuatannya.

Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mulai melakukan expansi pertamanya yaitu dia harus menaklukan Tanjung Palembang dan menunjuk Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) di daerah palembang sebagai titik temu. Palembang pada jaman itu merupakan kota di pinggir pantai di mana bukit Sigiuntang merupakan tanjung palembang yang menjorok ke laut. Tempat ini adalah dataran tinggi yang merupakan mercu suar atau tempat pintu masuk ke tanjung Palembang yang merupakan akses laut menuju ke sungai sungai yang ada di sumatera.selatan.
Pada peta pantai timur Sumatra purba di tepi pantai timur teluk purba terdapat 2 tanjung yang menjorok jauh kearah laut , kearah utara dengan jambi di ujungnya, dan yang timur menjorok kearah tenggara dengan Palembang berada diujungnya. Tanjung Palembang terbentuk oleh Bukit Siguntang sedang di selatan bukit ini terdapat teluk yang menjorok dalam lagi di mana sungai komering bermuara.

Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membawa 20.000 ( Dua Puluh Ribu ) pasukannya dengan 1.312 berjalan kaki melalui daratan atau hutan belantara dan sebagian lagi membawa perahu mengikuti perairan. Selama dalam perjalanan terjadilah pertempuran – pertempuran kecil yang tidak terlalu berarti yang merupakan perlawanan dari daerah daerah yang di lintasi oleh laskar Kerajaan Sriwijaya.
Pada tanggal 16 Juni 683 Masehi atau sekitar tujuh hari perjalanan sampailah rombongan pasukan yang di pimpin Dapunta Hyang Sri Jaya Naga di Muka Uphang. Perjalanan pasukan Sriwijaya mendapat kemenangan besar sehingga memberikan kepuasan bagi Sang Raja Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, kemudian Sang Raja memerintahkan untuk membuat bangunan atau rumah ( barak ) untuk tempat para laskar Sriwijaya yang berjumlah 2 laksa laskar Sriwijaya , untuk mengabadikan kemenangan tersebut di pahatlah Prasati Kedukan Bukit .
Setelah Mengadakan konsolidasi di daerah Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) dan kemudian menguasai pelabuhan palembang , maka “ pada hari kedua bulan terang bulan Caitra tahun 606 Saka ( 23 Maret 684 M ) Dapunta Hyang Sri Jaya Naga sangat puas akan kesetiaan rakyat setempat. Oleh karena itu di bangunlah Taman Sriksetra dengan pesan agar semua hasil yang di dapat di dalam taman ini seperti Nyiur, Pinang, Enau, Rumbia dan semua yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, demikian pula halnya dengan tebat dan telaga agar dapat di pelihara sehingga berguna bagi sekalian makhluk. Untuk itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga memohon restu agar ia selalu sehat sentosa terhindar dari para penghianat yang tidak setia, termasuk para abdi bahkan oleh istri-istri beliau. Karena beliau tidak akan menetap lama beliau menambah pesannya : “ Walaupun dia tidak berada di tempat dimanapun dia berada janganlah hendaknya terjadi Curang, Curi, Bunuh dan Zinah di situ. Akhirnya di harapkan doa agar beliau mendapatkan Anuttara bhisayakasambodhi “
( Parasasti Talang Tuo )

Setahun kemudian terjadilah pemberontakan yang di pimpin oleh Perwira Lokal yaitu Kandra Kayet sehingga menimbulkan korban termasuk salah satu Panglima Perang Sriwijaya terbunuh yang bernama Tan Drun Luah, walaupun demikian Kandra Kayet yang gagah perkasa dapat di di bunuh oleh Dapunta Hyang Sri Jaya Naga dan mati sebagai penghianat.
Untuk mengingat hal ini maka di buatlah suatu prasasti persumpahan untuk mengikat setiap para pejabat lokal yang ada di daerah taklukan agar dapat tetap setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kalau tidak maka akan terkutuklah dan di makan sumpah ( Prasasti Telaga Batu ).

Batu persumpahan yang dimaksud antara lain berbunyi :
- “....... kamu sekalian, seperti kamu semuanya, anak raja, bupati, panglima Besar,…….hakim pengadilan……kamu sekalian akan dimakan sumpah yang mengutuk kamu. Apabila kamu sekalian tidak setia kepada kami kamu akan dimakan sumpah. ( 1-6 )”.
- “ Apabila kamu berhubungan dengan pendurhaka yang menghianati kami ………...orang yang tidak tunduk kepada kami serta kedatuan kami kamu akan di bunuh oleh sumpah kutuk ini. ( 7-8 ) “.
- “ Apabila kamu menabur emas permata untuk meruntuhkan kedatuan kami atau menjalankan tipu muslihat………..dan apabila kamu tidak tunduk kepada negara kedatuan kami maka terkutuklah kamu akan dimakan dibunuh sumpah kutuk. ( 11-12 ) “.
- “ Demikian pula apabila kamu melawan kepada kami di daerah-daerah perbatasan negara kedatuan kami kamu akan dimakan, di bunuh. (13-14).
- “ ……lagi pula kami tetapkan pengangkatan menjadi datu dan mereka yang melindungi sekalian daerah negara kedatuan kami putra mahkota, putra raja kedua, dan pangeran lain yang didudukan dengan pengangkatan menjadi datu, kamu akan dihukum apabila kamu tidak tunduk kepada kami ( 19-20 )”.

Secara Geografis palembang adalah tempat yang strategis untuk menguasai lalu lintas pelayaran di Laut China Selatan. Namun kebanyakan pada waktu itu kapal – kapal berlayar singgah di kerajaan Melayu ( Jambi ) yang juga merupakan pelabuhan strategis di pantai timur sumatera kemudian kapal kapal tersebut melanjutkan perjalanannya ke utara tanpa singgah lagi di pelabuhan palembang.
Melihat kondisi seperti ini Dapunta Hyang Jaya Naga berencana untuk menaklukan kerajaan Melayu ( Jambi ) untuk di jadikan wilayah kekuasaan kedatuan Sriwijaya.

Dapunta Hyang Sri Jaya Naga bersama pasukannnya segera menuju Melayu, yang dari semula tanah Melayu sudah di rencanakan untuk di tundukkan.
Pada tahun 685 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya.
Untuk meneruskan perjalanan ke Selatan dengan tujuan akhir adalah bumi Jawa tentu saja Melayu harus segera pula di tinggalkan. Peristiwa pemberontakan Kandra Kayet terus saja terbayang oleh sri baginda dan ini di jadikan sebagai contoh oleh Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kepada setiap pejabat lokal bahwa setiap penghianatan, walau di lakukan oleh seorang perkasa sekalipun dapat di tumpas . kemudian penduduk kerajaan Melayu pun di ikat dengan Sumpah maka di pahatlah prasasti Karang Brahi.

Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali berangkat dengan melalui lautan berarti harus melalui selat Bangka . Oleh karena itu kerajaan Bangka harus pula di tundukkan lebih dahulu. Setelah menaklukan kerajaan Bangka, Dapunta Hyang Jaya Naga bersiap melanjutkan perjalanannya ke Bumi Jawa, namun sebelum keberangkatan Sri Baginda, penguasa lokal dan rakyatnya harus di beri peringatan dan di ikat dengan persumpahan untuk selalu setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga. Demikianlah pada akhirnya : “ Pada hari pertama bulan terang Waiseka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga meninggalkan Batu Prasasti Persumpahan yang kita kenal sebagai Parasasti Kota Kapur dan segera menuju Bumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
Dalam perjalanan Sri Baginda menuju Bumi Jawa masih ada daerah yang berdiri sendiri di pantai timur Sumatera Bagian Selatan, untuk kepentingan keamanan penguasaan laut selatan, kerajaan itu harus pula di tundukan. Kerajaan itu sebenarnya berasal dari satu rumpun wangsa Sakala Bhra. Kerajaan itu adalah kerajaan Ye-Po-Ti ( Way Seputih ) di lampung Selatan. Sama dengan peristiwa- peristiwa lainnya, setiap beliau meninggalkan daerah – daerah yang rawan pemberontakan harus diadakan sumpah setia terlebih dahulu. Sumpah tersebut terpahat dalam Prasasti Palas Pasemah.
Dari Way Seputih Rombongan langsung menuju Bumi Jawa, Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mengutus salah Satu Panglima terbaiknya yang juga merupakan kerabat dekat kerajaan yaitu Dapunta Sailendra untuk memimpin pasukan Sriwijaya menuju Bumi Jawa. Dari data yang ada tampaknya mereka menuju Jawa tengah bagian utara.
Pada saat inilah di nyatakan oleh berita di neger China ( Dinasti Tang ) bahwa kerajaan Sriwijaya terpecah menjadi dua bagian masing- masing mempunyai pemerintahan sendiri. ( Kronik Dinasti Tang ).

Pada periode perkembangan kerajaaan Wangsa Sailendra di Jawa Tengah harus melaksanakan perintah Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk membangun candi di Ligor ( Muangthai ) candi tersebut baru selesai tahun 775 di resmikan oleh raja Wisnu dari Wangsa Sailendra.
Sementara itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali ke Minanga untuk melanjutkan memerintah Kedatuan Sriwijaya yang menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka dan Laut China Selatan .

Berdasarkan prasasti Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan.
akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya.
Masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Di akhir Abad ke 7 ibukota Minanga telah mengalami malapetaka hingga Silap atau hilang secara misterius di telan bumi. Keadaan ini membuat Sri Baginda Dapunta Hyang Jaya Naga bersedih sehingga mengasingkan diri ke Gunung SEMINUNG untuk bertapa sampai akhir hayatnya.( Legenda Minanga Sigonong-Gonong )

Monday, 2 June 2014

NOVEL "KISAH CINTA" DIAMBIL DARI KISAH NYATA

Diambil dr kisah ku sendiri yg kualami dg dia “ZN”

DUHAI UHTI BERSABARLAH DALAM PENANTIAN MU

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.
Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.
Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.
DUHAI…
Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta’atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya? Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?
LETIH…
Sungguh amat letih jiwa dan raga. Sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa yang menunggu di sana.
Duhai ukhti sholehah…
Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana, selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.
Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta. Kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri, duhai ukhti. Taqarrub-lah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya, bukankah hanya Ia yang Maha Memberi dan Maha Pengasih. Ikhtiar, munajat serta untaian doa tiada habis-habisnya curahkanlah kepada Sang Pemilik Hati. Tak usah membandingkan diri ini dengan wanita lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya, meski ia tidak menyadarinya.
Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa. Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tausyiah-lah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.
Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya.
SABARLAH UKHTI SHOLEHAH…
Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa.
Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini. Dengan kebesaran hati dan jiwa, dirimu akan menemukan apa rahasia di balik titian kehidupan yang telah dijalani. Hingga, kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri.


AKU SAHABAT SEJATI MU YG AKAN MENEMANI DUNIA AKHIRAT.